Kepercayaan Diri Pebisnis Manufaktur Jepang Telah Turun Tajam

author

Unknown

Share Post

[caption id="attachment_8079" align="alignleft" width="300"]Reuters Poll Reuters Poll[/caption]

Kepercayaan diri pebisnis manufaktur Jepang telah turun selama tiga bulan berturut-turut ke level terendah dua tahun hingga Januari ini. Sebuah jajak pendapat bulanan Reuter Poll menunjukkan, penurunan ini didorong kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global dan ketegangan perdagangan yang telah berdampak pada sektor korporasi.



Seperti dilaporkan Reuters, Hasil jajak pendapat bulanan dilakukan membahas risiko penurunan ekonomi dan pergerakan harga berbagai produk. Survei bulanan yang dilakukan menemukan bahwa sentimen sektor jasa dan manufaktur masih tetap stabil. Hal ini mengindikasikan bahwa permintaan domestik dapat membantu mengimbangi dampak negarif dari ekonomi luar negeri.



Tetapi sentimen ini berpotensi memburuk dalam tiga bulan mendatang. Melemahnya inflasi dan melambatnya permintaan eksternal berarti BOJ tidak dalam posisi untuk menormalisasi kebijakan moneter. Sementara beberapa investor berspekulasi soal adanya potensi pelonggaran kebijakan dalam beberapa waktu ke depan.



Menurut survei yang dilakukan 7 Januari hingga 16 Januari lalu Indeks sentimen untuk produsen berada di angka 18, turun lima poin dari bulan sebelumnya. Penurunan tersebut terseret sejumlah sektor seperti baja dan mobil.



Sementara itu, indeks sektor jasa tetap stabil didorong oleh industri ritel. Hal in mencerminkan kekuatan dalam konsumsi sektor swasta, yang menyumbang sekitar 60% dari domestik.



Ekonomi Jepang sendiri telah menyusut 2.5% secara tahunan pada kuartal ketiga tahun fiskal. Penapaian ini merupakan penurunan terburuk dalam empat tahun terakhir.



Dalam jajak pendapat kepada 480 perusahaan besar dan menengah, eksportir mengeluh tentang kurangnya permintaan dari China dan Amerika Serikat. Mereka pun menyuarakan keprihatinan tentang perang dagang antara kedua mitra dagang utama Jepang tersebut mulai dari gesekan perdagangan yang mengganggu rantai pasokan global, memicu kekhawatiran dampak signifikan tahun ini pada perdagangan dunia, investasi, dan pasar keuangan.



Pasalnya permintaan global kini bergerak sangat lamban. "Amerika Serikat belum berkinerja baik sejak awal tahun fiskal ini. Tetapi negara-negara lain seperti China, India dan Meksiko juga melambat di paruh kedua." kata seorang manajer di produsen peralatan transportasi dalam survei tersebut.



Sejak awal 2019, pembuat motor presisi Nidec Corp (6594.T) dan produsen peralatan otomasi Yaskawa Electric Corp (6506.T) sama-sama memangkas prediksi laba operasional tahunan karena melemahnya permintaan dari China.



"Ketidakpastian tentang ekonomi global secara keseluruhan menyebabkan beberapa perusahaan Jepang ragu untuk melakukan investasi aktif," tulis seorang manajer di perusahaan mesin lain.



Beberapa 52 persen responden mengatakan mereka tidak akan mengubah jumlah belanja modal mereka tahun depan dibandingkan tahun ini, sedangkan 12 persen mengatakan mereka akan memotong. Sementara itu, 22 persen berencana untuk meningkatkan investasi, dan 14 persen mengatakan mereka akan melakukan hal yang sama tetapi terbatas.



Seperempat dari semua perusahaan yang disurvei - dan sepertiga dari produsen - mengatakan mereka berniat untuk meninjau rantai pasokan mereka di tahun fiskal mendatang.



Dalam tanda ketidakpastian tentang prospek laba, survei menemukan 58 persen perusahaan Jepang tidak berencana untuk menaikkan gaji pokok dalam pembicaraan tenaga kerja musim semi tahunan tahun ini.



Di antara perusahaan-perusahaan yang berencana menaikkan, hanya satu dari 10 perusahaan yang bermaksud menawarkan kenaikan gaji pokok yang lebih besar, yang akan menanggung akibat konsumsi swasta yang menyumbang sekitar 60 persen dari ekonomi.



"Saat ini, kami tidak punya pilihan selain mengambil risiko ekonomi memburuk," tulis seorang manajer pembuat peralatan transportasi.



Namun banyak analis juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang akan membaik pada kuartal ini. Tetapi akibat gesekan perdagangan global dan perlambatan ekonomi di China telah meningkatkan faktor risiko terhadap ekonomi Jepang, terutama dari sisi ekspor.