EY: Aset Keuangan Senilai 800 Miliar Sterling Telah Mengalir Keluar dari Inggris

author

CF Forex

Share Post

Lembaga konsultan kelas dunia EY yang merilis hasil analisanya pada awal pekan ini, menilai sedikitnya 800 miliar sterling mengalir keluar dari Inggris jelang keluarnya negeri tersebut dari Uni Eropa (Brexit).



Penyebabnya, Inggris dan Uni Eropa belum mencapai kesepakatan apa pun sehubungan dengan keluarnya Inggris dari blok ekonomi terbesar di dunia itu. Padahal, waktu perpisahan Inggris dengan Uni Eropa tinggal dua bulan lagi yakni pada 29 Maret.



"Semakin dekat kita dengan tanggal itu tanpa membawa kesepakatan apa pun, maka semakin banyak aset keuangan yang dipindahkan keluar dan semakin banyak sumber daya yang dipindahkan atau direkrut dari wilayah setempat," tutur Omar Ali, yang mengepalai layanan jasa keuangan EY untuk Inggris, seperti dilansir oleh Reuters.



EY menyebutkan nilai aset keuangan yang sudah ditransfer baru memperlihatkan puncak dari gunung es masalah Brexit. Aset 8 miliar poundsterling terbilang memang terlihat receh jika disandingkan dengan nilai aset sektor perbankan Inggris Raya yang mencapai 8 triliun poundsterling.



Aset-aset keuangan Inggris itu mengalir keluar ke berbagai pusat keuangan di Dublin, Luksemburg, Frankfurt dan Paris. Frakfurt Main Finance, lembaga yang mempromosikan pusat keuangan di kota Jerman itu, memperkirakan aset keuangan senilai 750 miliar-800 miliar euro akan masuk ke kantong mereka dari Inggris selama kuartal pertama tahun ini.



Imbas Brexit terhadap sektor keuangan Inggris juga terlihat dalam perubahan tren perekrutan sumber daya manusia. "Memang tidak akan ada perpindahan lokasi sumber daya dari Inggris karena banyak perusahaan hanya mau memindahkan sumber daya yang dianggapnya penting saja. Menimbang besarnya biaya relokasi pekerja, perusahaan lebih cenderung akan memilih merekrut karyawan baru di pusat keuangan yang baru," tutur Ali.



Penilaian itu sejalan dengan tidak terjadinya eksodus posisi kerja secara besar-besaran keluar dari Inggris, seperti yang pernah diperkirakan sebelumnya. Namun EY memperkirakan, ada tambahan 2,000 lowongan kerja baru di sektor keuangan di di Dublin, Luksemburg, Frankfurt dan Paris. Keempat kota itu memang digadang-gadang sebagai pusat keuangan baru Uni Eropa menggantikan London, saat Inggris tidak lagi berstatus anggota blok ekonomi Benua Biru.